TERSESAT DI ALAS ROBAN (5)

Kami hampir saja putus asa, tapi lagi-lagi dari kejauhan kami melihat ada sinar lampu yang tampaknya datang dari rumah penduduk..Nah..Ada harapan untuk bertanya lagi, siapa tahu kali ini ada petunjuk terang…pikirku dengan penuh harap..’’Setelah dekat ternyata benar, sinar lampu tadi juga berasal dari rumah salah seorang penduduk yang menghuni Alas roban..

’’Heran ya..padahal tadi kita lewat sini juga, tapi perasaan nggak ada satupun rumah..?..kenapa sekarang jadi banyak rumah..?..”kata Nawawi dengan penuh rasa keheranan..’’Kami semua sebenarnya sama juga dengan Nawawi karena merasa ada sesuatu yang kelihatannya janggal..’’Kami cuma berharap tadi waktu lewat jalan disini terlalu asyik bercanda sehingga tidak memperhatikan suasana sekeliling jalan…‘‘Herannya, masa ada empat pasang mata semuanya keliru..?

Rumah yang kami lihat itu mungkin lebih tepat disebut gubug saja daripada rumah sederhana sekalipun..’’Bangunan yang terbuat dari kayu sudah sangat reyot dan rapuh, tampaknya sudah lama dimakan oleh usia..Yang mengherankan buat kami adalah lampu rumah yang menyala dengan sangat terang sekali..Dan rumah reyot itu adalah satu-satunya rumah disitu tak ada tetangga lain..

Aku menepikan mobil mendekati rumah tersebut..Halaman rumah itu cukup luas juga..banyak pohon-pohon buah disekelilingnya..‘‘Lho itu orangya ada di luar.!!..Aneh..kayaknya dia lagi nyapu..kata Pipit kaget..‘‘

Kami semua memang agak terkejut melihat dihalaman gubug tersebut tampak ada seorang laki-laki yang sedang menyapu daun-daun kering yang mengotori halaman rumahnya..’’Ini aneh lagi..‘‘malam-malam begini ada orang nyapu halaman.., rajin amat itu orang ya..‘‘Apa nggak bisa nunggu pagi..?..

Yang lebih mengherankan orang tersebut mamakai topi seperti topi milik pak tani ketika sedang kesawah..”Biasanya topi seperti itu dipakai untuk menghindari panas..Ini kok malam-malam pakai topi ya..?

Penasaran karena melihat pemandangan ganjil seperti itu, kami berempat mencoba mendekati orang yang sedang menyapu halaman tersebut..Dengan perlahan-lahan kami mencoba bertanya kepadanya..’’Permisi pak..numpang tanya..‘‘kataku dengan bahasa sesopan mungkin..”Tapi orang tersebut tetap saja menyapu tak memperdulikan pertanyaanku..”

Pak permisi pak..?..‘‘Pengki juga mencoba bertanya..,‘‘Sejenak orang tersebut menengok kearah kami tapi kemudian meneruskan menyapu lagi..‘‘Pak..permisi pak..?..dia tetap tidak menjawab, terus saja menyelesaikan pekerjaan menyapu daun-daun kering, seolah tidak mau mendengar pertanyaan kami atau mungkin dia tidak mau diganggu..’’

Melihat keadaan seperti itu Pengki segera menggamit tanganku untuk kembali ke mobil..‘‘Nawawi dan Pipit kelihatannya masih penasaran tapi aku memberi kode dengan hati-hati untuk kembali ke mobil saja daripada nanti timbul masalah..

Kamipun bergegas kembali menuju ke mobil karena tak berani lagi bertanya kepada orang itu..Ketika akan masuk mobil aku kembali menengok kearah orang tersebut..”Heran..‘‘orang itu malah tersenyum kepadaku..walau senyumnya tampak ganjil dan dan susah diterka apa maksudnya..’’

Nawawi bersungut-sungut menahan kesal..‘‘Itu orang bisu apa budeg ya…!!..‘Ditanya kok nggak mau jawab.!!.‘‘Husssh..jangan kenceng-kenceng ngomongnya itu orangnya masih disitu, nanti denger lho..!!..aku mengingatkan Nawawi sambil cepat menariknya masuk ke mobil takut dia membuat ulah lain..‘‘

‘‘Ok..kita tancap gas lagi...!!!.‘‘kata Nawawi dengan suara keras, kelihatannya dia masih kesal dengan peristiwa yang barusan..Kami semua tertawa saja melihat ulah Nawawi itu..‘‘Udah, nggak usah diambil hati..gitu aja marah..nanti kita tanya orang yang lain lagi…‘‘Wah..Ini kalau kita jalan terus lama-lama bisa sampe Jakarta lagi nich..‘‘Pengki ikut-ikutan agak putus asa..

Aku segera menghidupkan dan menjalankan mobil kembali..Kami sejenak terdiam tapi mata kami fokus mencari-cari siapa tahu ada rumah penduduk lagi atau warung atau orang yang bisa ditanya arah jalan..Ketika mata dan fikiran kami sedang fokus ke tempat lain tiba-tiba….‘‘JREEEEENG.!!…‘‘tape mobil  menyala dengan sendirinya dengan volume yang keras..Waduh..kaget aku..!! kata Pipit sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri menunjukkan bahwa dia benar-benar terkejut…‘‘.Naaah..!! idup lagi..‘‘Ganti kaset dong..!!..’’ jangan Benyamin melulu, cari kaset yang agak rame dikit..‘ujar Nawawi kegirangan..

Baru saja aku akan mengganti kaset, mendadak tapenya mati lagi dengan sendirinya…“Yaaaaah..!!..‘Spontan kami mengeluh dengan suara hampir berbarengan seperti orang menyanyi a capella..

’’Ada yang korslet apa ya…??..Pengki bertanya sambil mengutak-atik tape mobil lagaknya seperti teknisi ahli saja..’’Kayaknya nggak tuh’’ ..soalnya nggak ada bau kabel terbakar..’’kataku..”Mungkin ada kabel terbakar tapi baunya kalah sama bau kentutnya Pipit kali…??..kata pengki lagi..’’Mendengar itu Nawawi tertawa ngakak terpingkal-pingkal.., hilang sudah rasa kesalnya tadi..’’

Hujan di luar sudah benar-benar reda bahkan cuaca kini terang benderang..Bulan dan bintang menggantung dengan anggun di langit yang kini berubah cemerlang..Awan-awan hitam menepi seakan memberi ruang kepada awan putih untuk menggantikan posisinya yang kini lelah setelah tadi lebih dari satu jam bekerja keras menumpahkan air hujan dengan sekuat tenaga…’’

Angin bertiup kencang seolah siap menghempas mobil yang kami kendarai..Hawa dingin tetap menusuk meskipun kami sudah menggunakan jaket dan sweater..’’Alhamdullilaah..’akhirnya kita bisa melihat bulan di atas Alas roban..kata Pipit mengucap syukur..’’ Aku terus membawa kendaraan dengan lebih berhati-hati dan tetap fokus menatap jauh kedepan walaupun hati sedikit berdebar-debar..

Karena cuaca semakin terang aku mulai tergoda untuk mencoba mengemudikan mobil dengan lebih kencang, tapi tetap saja tidak bisa maksimal karena jalannya masih licin akibat masih ada bekas sisa genangan air hujan..‘’Jangan ngebut-ngebut dong…!! Pipit protes..’’Tadi katanya jangan pelan-pelan..sekarang nggak boleh ngebut..gimana yang bener nih..’’kataku bingung…

Awaaaasss…..!!..teriakan Pengki mengagetkan kami semua…’’Ciiiiiiiiitt..!!!’’aku kembali menginjak rem dengan sangat mendadak….Mobil sampai miring menghadap ke kiri jalan, berputar hampir sembilan puluh derajat..,

”Ada apa lagi….!!..Pipit dan Nawawi bertanya berbarengan…’’Itu ada Pohon besar tumbang didepan kita masa nggak ada yang liat..?..Tolong disingkirkan dulu kayunya..’’Ayo dong cepet nih..!! masa aku yang turun ? Gantian dong..Kataku agak kesal karena tidak ada yang tanggap dan cekatan melihat situasi seperti ini…

‘’Sebentar dulu kita mesti hati-hati jangan terburu-buru, siapa tahu itu bukan pohon tumbang tapi sengaja dipasang oleh orang , kata Pipit..

’’Hahh…!! benar juga apa yang dikatakan Pipit..’’Hampir saja aku bertindak ceroboh.., siapa tahu ini memang jebakan yang sengaja dipasang orang untuk mencelakakan kami…’’Masih untung tadi aku sempat mengerem walaupun dengan sangat mendadak..

Padahal kami sudah sering mendengar cerita tentang perampokan dan pembegalan dengan motif pohon tumbang. baik cerita dari orang-orang yang mengetahui tentang kondisi Hutan Alas roban maupun hasil informasi dari  membaca berita di koran.. (BERSAMBUNG)

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.