TERSESAT DI ALAS ROBAN (2)

Sekitar tahun enam puluhan hutan ini juga dikabarkan pernah menjadi tempat pembuangan para pemberontak PKI yang terlebih dahulu sudah menjadi mayat..Belum lagi ketika pada masa pembuatan jalan ini yang dilakukan oleh Gubernur jenderal Belanda Deandles juga memakan korban manusia yang tidak sedikit..

Banyak pekerja yang harus meregang nyawa karena ganasnya medan Alas roban yang mengerikan…Mereka harus membelah gunung, membabat hutan dengan peralatan seadanya. Sebelumnya mereka juga harus membuat penanda jalan dengan patok-patok yang terbuat dari kayu dan besi melintasi hutan yang kala itu masih perawan..Setelah itu para pekerja tanpa upah itu masih harus mengangkut batu-batu besar dari lokasi yang sangat jauh dengan menggunakan peralatan yang amat sangat sederhana..‘‘

Lapar, haus dan sakit karena pukulan serta cambukan dari para Kompeni dan kaum Pribumi yang Opurtunis, jelas membuktikan bahwa jalan Alas roban memang dibangun dengan keringat darah dan banjir air mata..

Pada tahun sembilan puluhan Pemerintah kita membuat jalan baru yang melintasi Alas roban dengan memangkas jalan menjadi lebih singkat. Sehingga semua kendaraan pribadi bisa melalui Alas roban dengan lebih cepat tidak perlu melalui jalan berputar-putar naik turun..Sedangkan Kendaraan Bus dan Truk serta tronton tetap melalui rute lama  berputar-putar menyusuri hutan..

Sebelum masuk ke area Hutan Alas roban disepanjang jalan banyak warung-warung kecil dan rumah makan sederhana yang siap menunggu pengendara mampir sejenak melepas lelah sebelum bertarung di tengah Hutan belantara..

’’Gimana nich kita lanjut atau nunggu pagi..?..Suara Pipit  mengagetkan aku dari lamunan yang tadi sempat menerawang jauh..Pipit memang terkenal penakut dan sepertinya dia mulai ragu-ragu untuk terus melanjutkan perjalanan pada malam hari, mungkin dia berpikir lebih baik menunggu pagi di warung atau di mobil dari pada harus melintas Hutan Alas roban…

‘‘Mau nginap dimana..??..tidur di mobil malah bahaya..,apa lagi ini sudah masuk pinggir hutan..kita langsung aja…!!..Kata Nawawi.. .‘‘Ya..,ini udah tanggung.., mendingan kita terus aja daripada nginap di pinggir jalan..,lagi pula kita besok harus sudah sampai Yogya karena masih banyak urusan yang lain lagi…‘‘kataku ikut menyetujui apa yang di usulkan oleh Nawawi..‘‘

Akhirnya kami sepakat meneruskan perjalanan melalui Hutan Alas roban meski dengan berat hati karena dibayangi oleh perasaan takut dan khawatir .. ‘‘Tadinya kami berfikir akan melewati Alas roban sekitar jam lima sore..Tapi karena beberapa kali kami istirahat dan wisata kuliner di rumah makan akhirnya kami terlambat sampai di alas roban..Perhitungan waktu kami memang jadi agak meleset dari perkiraan semula..Tapi mau tak mau ini terpaksa harus tetap kami lakukan karena tidak ada pilihan lain..

’’Kita berangkat setelah maghrib aja, soalnya tanggung nanti cari tempat shalat di jalan malah susah lagi..‘‘Kali ini Pipit mengajukan usul yang lumayan bisa diterima…‘‘

Sambil Menunggu maghrib datang kami ditemani oleh suami-istri pemilik warung tersebut dengan ngobrol ngalor ngidul…Sementara hujan di luar semakin deras saja..,’’Bapak dan ibu tersebut menceritakan tentang anak perempuannya yang katanya bekerja di Jakarta tetapi sudah hampir empat tahun lamanya tidak pernah pulang kembali ke rumah…

Mereka mengaku selalu berdoa agar suatu ketika ada yang bisa membantu memberi informasi tentang keberadaan anaknya tersebut. Setiap ada orang yang mampir ke warung tersebut, mereka selalu menceritakan masalah tersebut sambil berharap siapa tahu ada yang pernah melihat atau kenal dengan anaknya..

Ironisnya suami istri tersebut hanya bisa menunjukkan foto anaknya ketika masih duduk di Sekolah Dasar. Itupun hanya foto hitam putih dengan ukuran 3×4 saja..Padahal si anak itu kini mungkin sudah berusia sekitar sembilan belas atau dua puluh tahun katanya..‘‘Tentu saja wajah dan fisik anak tersebut sekarang pasti sudah jauh berbeda..Kalaupun kami bertemu di jalan tak mungkin lagi bisa mengenali wajahnya..Tapi demi membuat rasa senang Bapak dan ibu tersebut kami mengatakan akan berusaha membantu mencarikan anaknya yang hilang..

Tak lama kemudian kami mendengar sayup-sayup ada suara Adzan maghrib berkumandang. Entah ada dimana letak Masjid atau Mushala yang mengumandangkan Adzan tersebut..‘‘Kami sempat tertegun menikmati suara adzan maghrib itu..,Aku merasa dalam kondisi seperti ini peran Muadzin mengumandangkan Adzan dengan memakai pengeras suara tampaknya menjadi sangat penting..

Hal ini sangat berbeda dengan kondisi umum kebanyakan Masjid yang ada di kota-kota besar…‘‘Dimana suara adzan sepertinya saling berkompetisi untuk menunjukkan siapa yang paling keras antara masjid yang satu dengan masjid yang lain..Bahkan kadang-kadang dalam satu RT ada beberapa Masjid yang selalu berbarengan mengumandangkan Adzan degan suara yang amat keras sehingga  jadi kurang bisa dinikmati untuk didengarkan..malah memberi kesan berisik bagi yang mendengarnya..

Tapi suara Adzan maghrib di pinggir Alas roban saat itu sungguh merdu dan mampu membuat hati kami tergetar mendengarnya..

Kami bergantian mengerjakan shalat maghrib, sementara hujan di luar sudah mulai reda meski masih rintik-rintik kecil..Setelah mengerjakan shalat dan menghabiskan sisa kopi, kamipun segera membayar dan kemudian berpamitan kepada pemilik warung tersebut untuk meneruskan perjalanan ke Yogya…’’Hati-hati ya mas..kalau hujan jalannya licin dan biasanya banyak kabut..,kata ibu itu mengingatkan kami..,

Ketika akan menghidupkan mobil aku sempat melihat pemandangan di sekeliling kami, tapi yang tampak hanya gelap gulita tak ada lampu penerangan..Sesekali ada mobil lewat tapi entah kenapa saat itu jarang sekali…Apa mungkin semua kendaraan memang selalu menghindari melalui alas roban pada malam hari… ? Mungkin cerita-cerita tentang Alas roban memang benar seperti kata orang-orang pikirku.. Tiba-tiba rasa khawatir menyergapku, ada sedikit rasa ragu-ragu untuk meneruskan perjalanan..Tapi aku melihat teman-temanku semua tampaknya tak ada masalah untuk terus melakukan perjalanan..(BERSAMBUNG)

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.