TERSESAT DI ALAS ROBAN (1)

Lagu milik almarhum benyamin tersebut mengalun lembut mengiringi perjalanan kami..duduk disebelahku temanku Pipit yang dari tadi sudah tidur ngorok..Namanya Pipit, banyak yang menerka pemilik nama ini adalah seorang wanita..Tidak sedikit juga yang menebak dia pasti memiliki lesung pipit yang manis di pipinya. Karena itulah dia  diberi nama Pipit..

Tapi semua tebakan itu meleset…Temanku ini laki-laki tulen, badannya tambun seperti kaleng krupuk..mukanya bundar penuh dengan ornamen jerawat ..,Kalau tersenyum tampak giginya tidak utuh..,karena ada dua giginya yang tanggal.,tak ada lesung pipit, dan rasanya jauh sekali dari kesan manis..

Kami memanggilnya Pipit karena kepalanya pitak… ‘’Entah kenapa ada sebagian rambut yang tidak mau tumbuh dikepalanya..’Untuk menutupi bagian kepalanya yang pitak itu dia selalu memakai topi kemanapun pergi..Dia marah kalau dipanggil si pitak..oleh karena itu kami memanggilnya Pipit..Tampaknya dia cukup senang dipanggil dengan nama seperti itu..,buktinya dia tidak pernah protes.Padahal nama aslinya cukup keren, Alexander Soejarwo..

Sore itu dalam perjalanan ke Yogya bersama kami dia tertidur sambil menutupi mukanya dengan topi..Mungkin dia lupa kalau kepalanya pitak, atau memang sengaja menutupi mukanya untuk menghindari sinar matahari sore yang terkadang menerobos dari kaca depan mobil yang kami tumpangi..

Dua orang temanku lainnya duduk di belakang, mereka adalah Pengki dan Nawawi…’’Kalau dipikir-pikir kedua temanku itu juga mempunyai nama yang lucu. ‘’Sebut saja Pengki…,’’jelas ini nama yang aneh.. !!, nggak ada bedanya sama serokan..’’Banyak yang heran kok orang tuanya tega memberi nama seperti itu.. ?..Padahal nama aslinya adalah Franki, tapi waktu kecil dia susah mengeja nama tersebut. Mungkin karena belum begitu lancar bicara dia selalu mengeja namanya sendiri menjadi Pengki..’’Sialnya nama itu keterusan melekat sampai dia besar.., Dan sampai sekarang keluarganya terlanjur memanggilnya dengan nama Pengki…’’

Lalu Nawawi..,’dimana lucunya nama itu.. ? coba dibalik dan dibaca dari belakang.., namanya jadi I wawan..sama dengan nama kecilku cuma ditambah huruf i di ujungnya..,’’Lucu nggak.. ?..

Nawawi adalah temanku waktu masih duduk di Sekolah Dasar. Dia blasteran antara suku Ambon dan suku Lampung asli. Ayahnya pendatang dari Ambon yang sudah lama menetap di Lampung. Seperti umumnya orang Ambon kebanyakan  kulitnya hitam dan rambutnya keriting. Sedangkan ibunya adalah penduduk asli Lampung, kulitnya putih dan matanya sipit mirip orang Tionghoa.. Orang-orang suku Lampung asli memang mempunyai ciri khas tubuh fisik seperti itu..’’Konon orang Lampung dulunya adalah imigran dari Vietnam dan Kamboja..’’

Tapi Nawawi ketiban sial..dari hasil perkawinan silang orang tuanya justru tidak menguntungkan buat dia..’’Kulitnya hitam persis seperti ayahnya, rambutnya juga keriting.., sayangnya matanya sipit mengikuti garis keturunan ibunya..Perkawinan silang itu tampaknya berhasil menghasilkan ras baru yang cukup unik..

Setelah lulus dari SMA dia melanjutkan Kuliah di Bandung. Kebetulan saat itu dia sedang liburan semester, jadi sekalian saja dia kami ajak ikut ke Yogyakarta sekedar jalan-jalan.. ‘‘Sedangkan Pipit  adalah temanku semasa di SMA tapi setelah lulus kami berbeda Kampus meski sama-sama di Yogya.. Dan Pengki sejak SMA sampai kuliah kebetulan selalu mengambil jurusan yang sama dengan aku..

Pengki dan Nawawi hanya duduk terdiam melihat pemandangan yang cukup indah di luar jendela kaca mobil..,Kami menuju Yogya melalui jalur selatan karena  pemandangannya cukup bagus, jalannyapun tidak terlalu ramai seperti jalur utara..‘Walaupun jalannya lebih berliku-liku dan medannya naik turun, tapi karena pemandangannya bagus membuat kami sangat menikmati perjalanan itu…

Sebelum berangkat ke Yogya kami telah sepakat akan bergantian menyetir mobil. Dari Jakarta sampai ke Bandung temanku Pipit yang mengendarai, sekarang sedang giliranku yang  membawa mobil..Rencananya sampai Semarang nanti gantian temanku Nawawi yang akan menjadi sopirnya..

Menjelang sampai di daerah batang hujan rintik-rintik mengiringi perjalanan kami…‘‘’’Kita mampir minum kopi dulu yuk..sambil ngilangin ngantuk..’’..kata Pengki memecahkan kesunyian..’’Ya..aku setuju.. !!..Pipit yang dari tadi tertidur rupanya mendengar usul dari Pengki..Mungkin karena ada yang berbicara soal Kopi dia langsung terbangun. Pipit memang pecandu kopi kelas berat..Dalam sehari dia bisa menghabiskan lima sampai enam gelas kopi..’’Ok..kita cari warung makan ya..sambil istirahat sebentar…’’kataku ikut menyetujui usul Pengki..

Aku menepikan mobil setelah melihat warung kecil di pinggir jalan di bawah pohon-pohon rindang..Setelah turun dari mobil kami berlari-lari menuju warung itu karena hujan rintik-rintik sudah mulai deras…Laki-laki dengan pakaian hitam-hitam menyambut kami, disebelahnya tampak seorang wanita memakai kaus oblong warna biru muda yang kelihatannya sudah sangat lusuh..mereka berdua derngan ramah mempersilahkan kami masuk..

’’Pesan makan apa mas.. ?..Disini cuma ada soto dan  pisang goreng.. !!..Ibu yang berbaju biru tadi menawarkan menu yang cuma ala kadarnya saja. Menu yang ditawarkan ibu itu memang sesuai dengan kondisi warung yang boleh dibilang sangat sederhana sekali….Warung itu hanya terbuat dari bilik bambu, lantainya alami dari tanah biasa tak di plester apalagi keramik..

Hanya ada dua bangku panjang terbuat dari kayu dan satu buah meja sederhana. Di dinding bilik sebelah kanan ada dua buah kaleng kerupuk menggantung. Tampak isinya tinggal beberapa buah saja..mungkin sudah melempem..‘‘Di sebelah kiri ada poster bergambar  Ebiet G ade sedang memeluk gitarnya..dan di bawah poster itu tertulis dengan huruf kapital…“BERITA KEPADA KAWAN..‘‘ Kalau aku tidak salah ingat ini adalah salah satu judul lagu Ebiet G ade yang sangat terkenal..

Sementara di pintu menuju ke belakang ada tulisan dengan menggunakan bahasa jawa halus..‘‘Sugeng rawuh, Sugeng riyadi, lan monggo pinarak‘‘..Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya kira-kira, Selamat datang, selamat hari raya dan mari silahkan mampir..! ‘‘Entah siapa yang menulis dan apa maksud tulisannya kami tidak tahu..

Di atas meja itu cuma ada pisang goreng yang disajikan memakai piring plastik dengan alas daun pisang yang sudah mulai layu..,Sepertinya pisang goreng itu sudah dingin jadi kami tidak terlalu berselera untuk menyantapnya..’’Kami cuma mau pesan minum kopi bolehkan pak.. ?..kataku..’’Oh..boleh mas.. ‘’sebentar kami buatkan kopinya..!!..silahkan duduk, di tunggu sebentar ya mas’’..

Pemilik warung itu kelihatannya adalah suami istri yang usianya mungkin sudah lebih dari setengah abad..Ketika ibu itu berbalik ke arah belakang, kami semua tersenyum geli melihat gambar yang ada pada kaus yang dipakai oleh ibu tersebut..Gambar logo group band terkenal asal Inggris Rolling stone dengan ciri khas lidah panjangnya yang menjulur, menghiasi punggung ibu pemilik warung tersebut..‘‘Boleh juga nih..,nenek-nenek metal…!!., Nawawi berbisik usil..’kami semua yang mendengar cuma senyum-senyum saja tak mau memberi komentar..

Tak lama kemudian kopi pesanan kami datang..,sambil menyilahkan minum bapak pemilik warung itu kembali bertanya..‘‘Mau kemana mas..??..Kami mau ke Yogya pak..,kuliah. !!..,jawab Pipit..‘‘Kalau ke Semarang masih jauh pak..??..Kira-kira masih satu jam dari sini mas…‘‘Wah..!!..‘‘Berarti kami harus melewati hutan alas roban malam hari nih..pikirku..!!..

Hutan alas roban waktu itu memang terkenal angker..Tak jarang para sopir truk dan sopir bus rela menunggu sampai hari agak terang jika akan melintasi hutan tersebut. Mereka banyak yang takut kalau harus melalui daerah itu pada malam hari. Jalan yang berliku-liku tanpa lampu penerangan dan sering kali ada berita pembegalan atau perampokan di hutan membuat semua orang harus berpikir ulang dua kali jika harus melalui Alas roban pada malam hari..Disamping itu Alas roban juga terkenal wingit karena banyak cerita tentang hantu dan para mahluk halus penunggu hutan yang sering menganggu siapa saja yang lewat di hutan tersebut..

Panjang rute Alas roban kurang lebih hanya 18km dan bisa ditempuh antara satu setengah sampai dua jam. Padahal kalau jalannya tidak berliku liku paling lama hanya setengah jam bisa ditempuh. Pada tahun delapan puluhan ketika Orde baru sedang berkuasa ada rumor di masyarakat yang mengatakan bahwa hutan Alas roban adalah salah satu tempat pembuangan para Bromocorah dan Recidivis yang dieksekusi oleh Petrus (penembak misterius)..(BERSAMBUNG)

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.