PERKENALAN DENGAN TENAGA DALAM (1)

Tahun 1977 – Sore hari…‘‘Mageri…!!,.mawasigeri..!!…hibadachi..!!..‘‘Kak Tony sedang memberikan aba-aba kepada kami dengan bahasa Jepang yang cukup fasih….“Aku tidak tahu tulisan diatas itu benar atau salah, karena semasa latihan aku hanya selalu mendengar tapi belum pernah sekalipun melihat bentuk tulisannya…“Hari itu adalah hari pertama kami berlatih karate. Kami tiga beradik (aku, kakakku dan adikku) mengikuti kegiatan bela diri Karate dengan unsur tenaga dalam bersama teman-teman sekolah dan teman sepermainan. Dari sinilah awal mula aku mengenal dan mempelajari ilmu tentang tenaga dalam. Aku masih ingat tahun pertama waktu kami mulai latihan, karena pada tahun itu adalah tahun dilaksanakannya PEMILU  atau pemilihan umum di Indonesia.

Di dekat rumah kami ada lapangan yang sangat luas tempat orang-orang berkumpul untuk pertandingan olahraga atau pertunjukan seni seperti layar tancap dan sirkus keliling…Di lapangan tersebut hampir setiap tahun selalu ada pertunjukan sirkus keliling. Terkadang yang datang adalah rombongan sirkus dari luar negeri seperti dari Singapura, dari Negeri Cina atau bahkan pernah ada yang datang rombongan sirkus dari India.

Mereka datang lengkap dengan binatang-binatang sirkus seperti kuda, simpanse, harimau hingga gajah..’Rombongan sirkus ini biasanya mendirikan tenda besar tempat mereka menginap selama berbulan-bulan lamanya sebelum akhirnya pindah ke kota lain.

Di lapangan itulah aku bersama teman-teman pernah melihat sekelompok orang sedang berlatih karate dengan dengan mamakai unsur tenaga dalam. Kami begitu kagum melihat salah seorang dari guru mereka karena tidak bisa dipukul lawan dalam salah satu sesi latihan di lapangan itu.

Para murid-murid lain yang mencoba terus memukul sang pelatih ikut terpental dan terlempar, bahkan ada yang sampai muntah-muntah ketika akan menyerang dari belakang sang pelatih tersebut,..‘‘Wah..hebat sekali pelatih karate itu pikirku, dia tidak bisa dipukul oleh musuh dari manapun datangnya…Kami yang menonton pertunjukan itu menjadi tertarik untuk mengikuti latihan..

Waktu kecil aku adalah penggemar berat komik-komik silat dan komik tokoh-tokoh pahlawan super hero. Melihat pertunjukan itu aku mulai berkhayal seandainya aku mengikuti latihan tenaga dalam siapa tahu aku bisa jadi sakti seperti Batman, Gundala, Superman, atau godam yang menjadi pahlawan super hero terkenal saat itu.. Karena godaan untuk menjadi sakti cukup kuat, akhirnya aku mengajak teman-teman untuk mendaftar mengikuti latihan,..

Setelah membujuk kakak dan adikku serta beberapa orang teman akhirnya aku bisa ikut latihan Karate dengan unsur tenaga dalam.

Sayangnya kami tidak lama menekuni olah raga seni bela diri itu karena latihan fisiknya sangat berat. Aku merasa kesulitan mengikuti dan menghafal jurus jurusnya yang sangat banyak dan juga sulit gerakannya. Aku dan adikku hanya sampai tingkat dua atau ban kuning sementara kakakku dan beberapa orang temanku bisa menekuni sampai ban hijau atau setingkat lebih tinggi dari aku dan adikku.

Meskipun begitu ada satu pengalaman yang menarik semasa kami menjalani latihan, yaitu ketika kami mengikuti Gashuku di pantai Pulau pasir, salah satu pantai terkenal di Lampung. Gashuku adalah latihan bersama-sama seluruh anggota di tempat-tempat tertentu, biasanya jauh dari kota dan menginap beberapa hari.

Jumlah peserta Gashuku saat itu kurang lebih 50 orang, gabungan dari seluruh cabang yang ada di propinsi Lampung. Guru besar kami dari Bandung pun ikut menyempatkan hadir.

Karena Gashuku kala itu diadakan di tepi pantai, kami diharuskan berlari-lari dari tempat latihan di kota menuju pantai yang jaraknya kurang lebih 25Km. Padahal kakiku saat itu sedang terkena penyakit mata ikan, semacam sakit bisul yang kebetulan tumbuhnya di telapak kaki,..“Mungkin disebut penyakit mata ikan karena bentuk bisulnya memang mirip sekali dengan mata ikan yang sedang melotot,..(mana ada ikan yang merem..? )…

Bisa dibayangkan aku harus lari sambil jinjit berjingkat-jingkat.“Karena jika bisul itu terkena aspal atau menyentuh tanah rasa sakitnya bukan alang kepalang.

Aku tidak tahu kalau zaman sekarang  penyakit ini kira-kira disebut sakit apa. Tapi mungkin penyakit mata ikan ini sudah lenyap dari muka bumi, karena aku tidak pernah lagi melihat atau mendengar orang sekarang terkena penyakit seperti itu.

Yang jelas aku sangat tersiksa karena harus berlari dengan terpincang-pincang dan kesakitan. Jika berhenti sebentar saja para pelatih akan menegurku dengan keras tanpa belas kasihan sedikitpun.

Ayo lari terus wan jangan berhenti..!!..’teriak kak Izal salah satu pelatihku yang kepalanya botak, tidak perduli aku meringis kesakitan…

Ketika sampai di Pantai Pulau pasir telapak kaki kananku sudah melepuh, sakitnya luar biasa..,perih, panas, dan nyut-nyutan..‘‘Rasanya pingin nangis dan pulang  saja ke rumah, tapi aku malu sama kawan-kawan seperguruan, masa ikut karate kok cengeng..apa kata mereka nanti,..lagi pula aku tidak tahu jalan pulang.

Kaki kiriku juga melepuh sedikit karena kami berlari melalui jalan aspal di tengah terik matahari siang yang menyengat..Setelah diobati seadanya dengan obat merah tanpa di perban aku harus tetap mengikuti latihan-latihan berat dengan kaki telanjang.

Selama seminggu kami di gembleng dengan latihan fisik yang luar biasa berat.‘‘Pagi, siang, sore, malam, bahkan tengah malam pun kami terus berlatih. Terkadang jam tiga pagi kami harus berendam setinggi dada di laut dan  latihan bermacam-macam jurus. Beberapa kali kami juga harus kumite (pertandingan satu lawan satu) di darat dan di laut.

Untuk para senior ada latihan tambahan yang kelihatannya lebih berat, mereka berlatih menghancurkan tumpukan batu bata, mematahkan besi dragon dan memecahkan es balok. Karena latihan yang sangat keras ada beberapa temanku yang mengundurkan diri tidak kuat mengikuti Gashuku sampai selesai.

Mungkin karena terlalu lelah mengikuti latihan, adikku sempat mengalami tidur sambil berjalan berkali-kali. Untung saja ketika tidur berjalan ke arah laut sempat dilihat oleh para pelatih, sehingga kejadian lebih fatal bisa segera dihindari.

Setelah mengikuti pelatihan yang panjang, sangat berat dan melelahkan, pada hari ke tujuh akhirnya kami pulang kembali ke kota dengan berlari-lari seperti waktu berangkat…‘‘Anehnya kakiku sudah sembuh seratus persen tanpa bekas sedikitpun, aku bahkan tidak ingat kapan sembuhnya. Benar-benar aneh bin ajaib pikirku“.

Karena merasa sudah sembuh akupun bisa berlari-lari dengan ringan dan cepat tidak seperti waktu berangkat Gashuku.‘Lho wan..kakimu sudah sembuh ya..? kata kak Izal,..‘‘Sudah kak..!!,.. sembuh sendiri kataku,..‘mana coba lihat,..!!..‘iya wan sudah sembuh,..kok cepet amat sembuhnya,..??..bekasnya kok nggak ada ya..?,..“kata kak Izal keheranan…‘‘

Tak lama setelah sampai di tempat biasa kami latihan, segera kami dibubarkan oleh pelatih untuk kembali pulang ke rumah masing-masing. ‘‘Pengalaman luar biasa mengikuti Gashuku itu menjadi kenangan yang tak terlupakan hingga kini…

Sepulang dari Gashuku ada beberapa peristiwa yang menjadikan aku makin terobsesi untuk terus mendalami ilmu tenaga dalam. ‘‘Yang pertama aku sangat tertarik dengan para pelatih senior yang mampu memecahkan tumpukan batu bata dan dapat memecahkan Es balok serta pertunjukan kekuatan tenaga dalam lainnya..‘‘Para pelatih yang sudah mampu memecahkan Es balok itu pasti mempunyai tenaga dalam yang luar biasa pikirku.. “Aku sering berkhayal Kapan aku bisa ya..??..

Yang kedua adalah pengalaman melihat langsung cara pelatih senior mengobati orang yang sedang kesakitan dengan cara yang unik..“Setiap ada murid yang kesakitan karena terpukul ketika sedang pertandingan satu lawan satu, atau sebab lain, orang yang sedang menderita kesakitan itu malah dipukul kembali dengan sangat keras sekali dibagian perutnya oleh pelatih senior…‘‘Tapi anehnya murid yang tadinya kesakitan karena terpukul atau kena tendangan muriid lain justru jadi sembuh setelah dipukul lagi oleh pelatih senior..‘‘Anehkan..?? Sudah sakit kemudian tambah dipukul lagi tapi tidak bertambah sakit malah jadi sembuh…(BERSAMBUNG)

2 comments

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.