MASA KECIL (3)

Tapi lama kelamaan kami menjadi terbiasa dengan suara-suara aneh tersebut. Ketika rumah kami sudah makin ramai dengan lahirnya dua adikku, dan kemudian ada paman, serta beberapa kerabat yang ikut tinggal di rumah kami, perlahan-lahan suara-suara itu menghilang dengan sendirinya. Suasana rumah pun menjadi hidup, tidak menakutkan lagi.

Waktu aku duduk di kelas tiga SD suasana sekeliling rumah sudah makin ramai, rumah kosong di sebelah juga sudah ada yang menempati, halaman belakang jauh lebih bersih walaupun pohon-pohon besar tetap ada…Keluarga kami juga mulai kenal lebih banyak dengan tetangga-tetangga yang ada di sekitar rumah.

Sesekali gangguan suara-suara dan penampakan aneh-aneh memang masih muncul juga, tapi sudah tidak seperti dulu waktu awal kami baru pindah.

Hanya saja bapak masih sering bercerita, kalau lupa mengerjakan shalat selalu saja ada orang tua yang mengingatkannya melalui mimpi untuk segera mengerjakan shalat yang terlupakan.

Meskipun begitu kamar bagian tengah di rumah kami masih tetap menjadi kamar yang menyeramkan. Tak ada yang berani tidur di kamar itu sendirian…Aku paling takut  jika harus tidur di kamar itu sendiri. Sering kali antara tidur dan terjaga atau antara mimpi dan nyata aku merasa seperti ada hantu menyeramkan yang sengaja menindih atau memelukku dengan sangat erat sekali. Sehingga aku menjadi sulit bergerak dan sulit untuk bernafas…

Biasanya dengan melakukan perlawanan yang keras dan rasanya sangat lama sekali aku baru bisa membebaskan perasaan seperti itu. Kondisi tidur seperti ini orang sunda menyebutnya keereup-ereup atau ketindihan kata orang Lampung.

Tapi besok dan besoknya lagi selalu saja terulang kembali..Padahal sebelum tidur aku selalu membaca doa bahkan terkadang malah mengaji beberapa Ayat Al-quran yang pendek-pendek agar dapat tidur dengan nyenyak dan terbebas dari gangguan..‘‘Tetap saja aku selalu mengalami tidur ke ereup-ereup..‘‘

Sebagai anak kecil aku tumbuh seperti teman-temanku lainnya..Aku sekolah dan bermain layaknya anak seusiaku.. Rasanya normal-normal saja, tak ada yang aneh dan tak ada yang istimewa…

Cita-citaku ketika masih kanak-kanak juga selalu berubah-ubah seperti anak kecil lain pada umumnya…Kalau ada film Detektif bagus aku ingin jadi Detektif  seperti yang ada di film itu..‘‘Kalau ada film Koboy yang sedang trand aku juga pingin jadi  Koboy..Demikian juga kalau ada film silat yang heroik seperti si buta dari goa hantu aku juga pingin jadi jagoan silat seperti itu..

Melihat Rudi Hartono juara All England rasanya aku juga pingin jadi pemain Bulu Tangkis…Pokoknya tergantung situasi apa yang sedang jadi trand saat itu..Tapi kalau ditanya oleh guru di sekolah jawabanku dan murid-murid lainnya pada waktu itu hampir pasti selalu seragam. Rata-rata para murid sekolah jaman aku dulu hanya mempunyai cita-cita ingin menjadi Dokter atau Insinyur, kalaupun ada yang berbeda sedikit paling-paling pingin jadi Guru, Masinis, Pilot atau Nakhoda kapal..

Pada masa aku kecil dulu, untuk mempunyai cita-cita saja sangat terbatas..Tak ada yang bercita-cita ingin jadi pengusaha sukses,..tak ada yang berani bercita-cita jadi musikus, pedagang, Kyai, artis dan lain-lain…Padahal di jaman sekarang orang yang mempunyai profesi seperti tersebut di atas bisa mempunyai penghasilan yang sangat menjanjikan..

Apalagi bercita-cita jadi Presiden,..di masa itu suatu hal yang dianggap tabu dan tidak masuk akal. Ada satu anekdot yang mengatakan untuk menjadi Presiden di Indonesia pada waktu itu, salah satu syaratnya adalah sudah pernah menjadi Presiden atau berpengalaman menjadi Presiden minimal satu kali…‘‘Lha…kalau begitu berarti yang berhak dan pantas menjadi Presiden ya cuma Presiden yang lama saja.‘‘Karena Presiden yang lama sudah pasti terbukti berpengalaman menjadi Presiden, bahkan sudah sering menjadi Presiden..‘‘

Dulu ketika aku masih kecil segala macam permainan di tempatku selalu ada musim – musimnya. Tidak seperti di jaman sekarang yang setiap orang bisa bermain apa saja dan kapan saja..Dan setiap orang yang hidup dijaman sekarang rasanya lebih senang bermain sendiri-sendiri atau dengan kelompoknya masing-masing. Penyebabnya mungkin karena jumlah permainan yang ada sudah semakin banyak dan beragam….Tanpa sadar ini mendidik manusia sekarang menjadi manusia yang individualis dan egois…

Jaman ketika aku masih kecil, Jika musim layang-layang semua orang ramai-ramai ikut bermain layang-layang. Di halaman rumah atau di lapangan banyak sekali orang asyik bermain layang-layang. Langit Tanjung karang kala itu seakan penuh dihiasi dengan berbagai macam layang-layang. Dari layang-layang kecil sampai yang sebesar gajah ada terlihat di langit tanjung karang. Bentuknyapun bermacam-macam, ada layang-layang berbentuk seperti ular naga, burung garuda, bahkan ada layang-layang yang dibuat mirip superman dan spiderman…

Lain kali musim layang-layang berganti menjadi musim permainan kelereng atau gundu, lalu semua orang ditempatku sampai sudut-sudut kampung pun ikut bermain kelereng. Ada lagi musim main wayang bergambar yang menjadi salah satu musim favoritku.. Ketika PSSI menang main bola,musim pun berganti menjadi musim bermain sepak bola..Begitu juga ketika Indonesia juara Thomas Cup semua orang  mendadak jadi punya raket badminton dan lapangan badmintonpun menjamur dimana-mana…‘‘Mungkin semua orang membayangkan seandainya menjadi Rudy Hartono atau paling tidak bercita-cita ingin jadi seperti Rudy Hartono..

Dan masih banyak lagi musim permainan yang lain seperti Yoyo, egrang, main karet gelang. Juga banyak jenis permainan yang tidak menggunakan alat seperti main petak umpet, perang-perangan, engklek, bentengan, main gobak sodor..dll

Bisa jadi karena ada musim-musim seperti itu maka di kampungku jarang sekali ada perkelahian atau kerusuhan..waktu itu kami hidup sangat rukun meski serba kekurangan dalam banyak hal…‘‘Hampir setiap bulan musim permainan selalu berganti-ganti menemani perjalanan hidupku semasa aku kecil..

6 comments
  1. Waktu kecil tinggal dienggal samping lapangan saburai tetanggaan dengan ahmad yani….sekarang kemana ya dia

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.