MASA KECIL (2)

Selama seminggu beberapa kerabat dan tetangga desa tempat kami berasal yang mengantar ikut menginap menemani kami. Mereka tidur di kamar bagian tengah yang cukup luas dengan menggelar tikar seadanya.

Setelah mereka pulang kembali ke rumahnya masing-masing, rasanya rumah menjadi sangat sepi dan menakutkan. Untungnya hampir setiap malam selama berhari-hari, bapak selalu membaca Al-quran di ruang depan dengan suaranya yang lumayan merdu. Bapak mengaji dengan suara yang cukup keras hingga terdengar sampai ruang tidur utama. Suara bapak ketika mengaji itu sangat menghibur, bisa mengurangi rasa sepi dan rasa takut kami jika malam tiba.

Bapak adalah seorang muslim yang taat tapi juga sangat moderat. Dia adalah sosok bapak yang benar-benar bisa menjadi pengayom keluarga. Laki-laki terbaik yang pernah diciptakan Tuhan untuk memimpin keluarga kami dengan penuh tanggung jawab. Aku sangat bangga kepadanya, beberapa kepandaian yang aku bisa hampir semua aku dapat darinya. ‘‘Mulai dari bermain catur, badminton, hingga bermain gitar. Bahkan cara mencuci baju, mencuci peralatan dapur, menyapu lantai dan menyapu halaman hingga cara menyetrika dengan benar, semuanya aku dapat dari bapak.

Aku sangat bersyukur dengan semua itu, karena dikemudian hari ketika aku besar semua ilmu sederhana itu sangat berguna dikehidupanku.

Aku masih ingat waktu bapak menerangkan cara mencuci baju di hadapan kami anak-anaknya dengan penuh kesabaran… “Untuk merendam baju sediakan tiga ember. Ember pertama untuk merendam pakaian berwarna, yang kedua untuk pakaian putih dan ember ketiga untuk pakaian dalam. Sedangkan untuk pakaian yang kira-kira luntur sebaiknya dicuci belakangan. Ingat !..”sebelum direndam semua pakaian yang ada kantungnya diperiksa dulu, siapa tahu ada uang atau surat berharga yang tertinggal nanti bisa basah dan rusak.. Itu adalah salah satu pelajaran sederhana yang aku dapat dari bapak.

Satu-satunya pelajaran dari bapak yang sampai saat ini tidak bisa aku praktekkan  adalah menyanyi.. Kalau menyanyi keroncong suara bapak sangat merdu dan enak didengar, sementara suaraku  malah seperti kaset rusak..

Setelah jam enam sore keadaan di rumah baru kami itu memang menjadi sangat mencekam,  apalagi kami belum punya TV bahkan radio pun kami tidak punya… Hal ini tentu saja semakin menambah sunyi senyap suasana rumah .

Kondisi ini semakin parah dengan seringnya listrik padam di rumah kami. ‘’Hampir setiap bulan selalu saja ada hari mati lampu, kami menyebutnya giliran PLN. Terkadang sampai seminggu lamanya listrik di daerah kami mengalami pemadaman bergilir. Jika hal itu terjadi kami selalu ketakutan dan berkumpul di kamar  utama. Apalagi kalau bapak pulang setelah maghrib, rasanya sudah sangat terlambat. Jam 19.00wib waktu itu kelihatannya memang sudah malam sekali karena belum ada lampu penerangan jalan. Jadi bisa dibayangkan kalau malam Tanjung Karang tentu menjadi gelap gulita.

Menjelang tidur bapak selalu menyediakan tempolong di kamar sebagai persiapan jika kami ingin buang air kecil tengah malam. Terkadang bapak atau ibu memang suka malas mengantar kami ke kamar mandi yang letaknya cukup jauh dibagian belakang rumah. Sedangkan kami tidak berani ke kamar kecil sendiri kalau hari sudah malam. Dengan terpaksa di tempolong itulah kami buang air kecil.

Ketika kelas dua SD aku pernah mengalami sakit hampir satu bulan lamanya. Tapi berhubung ibuku adalah perawat, jadi aku tidak dibawa ke dokter atau rumah sakit yang jaraknya memang lumayan jauh dari rumah kami. Mungkin juga karena alasan ekonomi keluarga kami yang pada waktu itu sedang dalam keadaan kekurangan dan prihatin.

Aku tidak tahu sakit apa, tapi kalau ditanya oleh teman atau guru di sekolah, aku selalu menjawab bahwa aku sakit panas.‘‘Suhu badanku saat itu memang panas sekali, kata ibuku aku bahkan sempat mengalami steep dan kejang-kejang.. karena panas tubuhku mungkin sudah sangat tinggi..

“Ada satu peristiwa cukup menakutkan dan hingga kini tak mudah untuk kulupakan, peristiwa itu  yang menyebabkan aku sakit panas berkepanjangan…..“

”Waktu itu sore menjelang maghrib‘‘…, aku masih bermain bola plastik di dalam rumah dengan beberapa orang teman, tetangga dekat rumah. Ketika hari sudah mulai agak gelap, teman-temanku pun pulang ke rumah masing-masing, tetapi aku masih asyik bermain-main sendiri di bagian muka rumah.

Ketika bola yang aku tendang mengarah ke ruangan tengah, tak sengaja aku melihat ada seseorang duduk di atas pintu kamar yang masih terbuka lebar. Aku tidak kenal orang tersebut, mukanya pucat pias, matanya melotot memandang tajam ke arahku.

Kenapa dia bisa duduk di atas pintu..?.. ‘’kapan naiknya…, pakai apa..?.. Waktu aku sedang berpikir dan terheran-heran, orang tersebut malah tertawa dengan keras sekali seperti dengan sengaja mengejekku, lalu dia pindah ke pintu yang lain dengan begitu saja seolah-olah bisa terbang. Begitu seterusnya orang itu berpindah-pindah dari pintu satu ke pintu yang lain sambil tertawa-tawa.

Anehnya tidak ada orang lain yang melihat atau mendengar tawanya yang keras dan menyeramkan..“Aku sangat ketakutan, mendadak jadi sulit bernafas,.. jantungku berdegub kencang dan nafasku sesak. Seperti ada yang menutup hidungku dengan sangat rapat.

Otakku jadi kacau, tak mampu mengirim sinyal ke mulut, sehingga aku tak mampu bicara sepatah kata pun…Rasanya ingin lari sekuat tenaga berusaha menjauhi orang itu, tapi kaki jadi sangat berat dan kaku tak bisa digerakkan… Seperti ada beban berat yang menggantung di kakiku..Aku semakin ketakutan dan berharap segera ada orang melihat lalu menghampiriku. Tapi harapanku sia-sia…

Setelah berusaha cukup keras akhirnya aku mampu berteriak memanggil bapak dan ibuku sambil menangis ketakutan,..Buuu..!! teriakku..lantang..“Lalu aku melihat bapak dan ibuku berlari tergopoh-gopoh ke arahku,..“Ada apa ?..!!..ada apa..?  tapi aku tidak bisa menjawab.. aku tidak bisa berbicara, mulutku terkunci rapat, hanya mampu menunjuk apa yang ku lihat,..“iiituuu..ituuu..iiituu..!!! “kataku tergagap dengan suara serak nyaris tak terdengar karena sulit bernafas dan tak mampu membuka mulut… ‘’Kemudian aku di gendong oleh ibu dan segera dibawa ke kamar tidur.

Malamnya kata ibuku aku menggigau dan panas tinggi sambil terus menunjuk-nunjuk ke  arah pintu karena aku merasa melihat terus orang tersebut yang terkadang masih kelihatan muncul di atas pintu…’’Setelah peristiwa itulah aku sakit panas berkepanjangan.. ‘’

Rumah kami adalah rumah tua buatan Jaman Belanda, mungkin sudah lama sekali tidak pernah dihuni orang. Para tetangga banyak yang bilang rumah itu angker,  terutama kamar tengah.

Ketika kami baru pindah, pohon jambu bol dan pohon mangga sedang berbuah lebat. Tetapi anehnya tidak ada yang berani mengambil buah di pekarangan rumah kami, padahal rumah itu kosong sangat lama sebelum kami tempati.

Ada isyu yang berkembang di kalangan tetangga, bahwa setiap orang yang mengambil atau memakan buah dari rumah kami pasti akan sakit. Kami tidak tahu siapa yang memulai menghembuskan isyu tersebut. Entah kebetulan atau tidak, beberapa tetangga yang mengambil dan memakan buah dari pekarangan rumah kami memang  ada yang sempat sakit keras.

Setelah usiaku bertambah besar aku jadi teringat waktu pertama kali kami pindah rumah. Saat itu aku sempat terheran-heran dan bingung kenapa di dalam rumah ada orang yang menjawab salam dari bapak, kemudian orang tersebut malah berjalan ke lorong belakang dan tidak mau menemui kami.

Padahal waktu itu kondisi rumah dalam keadaan terkunci rapat dari luar, tidak ada jendela atau pintu lain yang terbuka. Yang kemudian terus menjadi pikiranku adalah dari mana orang itu masuk dan keluar melalui apa dia.. ?

‘Anehnya lagi hanya aku sendiri yang mendengar orang tersebut menjawab salam dan melihat dia berjalan ke belakang rumah.

Siapakah dia..? Jin, setan, gondoruwo, malaikat atau mahluk apa..? Waktu itu aku tidak begitu mengerti, mungkin karena usiaku masih terlalu kecil. Tapi setelah sakit panas yang cukup panjang, aku diberi tahu oleh ibu bahwa apa yang aku lihat sebelum sakit panas itu kemungkinan adalah mahluk halus, orang-orang menyebutnya hantu. !! Lalu aku mulai berpikir…,‘’Apakah orang yang menjawab salam dari bapak itu juga hantu…!!! ?

Sejak saat itu aku sedikit demi sedikit mulai mengerti bahwa di rumah kami ada penghuni lain selain kami, dan aku tahu itu bukan manusia biasa, penghuni lain itu adalah mahluk halus atau hantu seperti kata orang-orang.

Sebenarnya sudah sejak pertama kali pindah ke rumah itu, hampir setiap malam kami selalu mendengar suara-suara aneh yang sering membuat kami ketakutan dan merasa tidak nyaman.

Terkadang ada suara seperti orang sedang mengetik, suara orang mencuci piring, orang menimba air, suara gaduh orang sedang bercanda, suara orang menangis, suara orang berbaris, dan lain-lain. Suara yang sangat mengganggu ketentraman kami selama tinggal di rumah itu. Bahkan pada siang hari pun di kamar tengah suara-suara itu sering terdengar… ‘’Padahal kata orang-orang hantu itu keluarnya cuma malam hari…?

Pernah suatu malam ketika aku sedang tertidur nyenyak di ruang tengah, aku mendengar ada suara orang yang sedang memukul rantang dengan sangat keras  tepat di samping telingaku, saat itu aku cuma sendiri di ruang tengah karena semua sudah tidur di kamar. “Aku pun terbangun kebingungan..,Setelah sadar ternyata tidak ada orang lain, aku ketakutan sendiri dan bergegas pindah ke kamar utama tempat bapak dan ibuku tidur.

Paginya aku cerita ke teman-teman sekolah tentang peristiwa semalam. Mereka semua malah tertawa dan mengejekku,..”Aneh,..”setan di rumah kamu aneh dan kurang kerjaan ya,.. masa nakut-nakutin orang kok mukulin rantang di depan telinga, kata mereka menyindirku .. Aku tak perduli mereka percaya atau tidak..Dan aku bisa memaklumi karena mereka mungkin belum pernah mengalami sendiri hal seperti itu..

Pernah juga suatu pagi ibuku terkejut karena bak mandi sudah terisi penuh air,  peralatan dapur, piring-piring dan gelas kotor sudah tercuci bersih… “Siapa yang mencuci perabotan dan mengisi bak malam-malam.. ?…

“Pamanku punya pengalaman yang lain lagi, beberapa kali ketika dia bangun pagi letak meja, kursi dan dipan selalu berubah-ubah padahal tidak ada orang yang memindahkan..(BERSAMBUNG)

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.