MASA KECIL (1)

Tahun 1971 – Usiaku masih belum genap lima tahun, hari itu keluarga kami sedang sibuk bersiap-siap akan pindah rumah dari rumah kami sebelumnya di sebuah desa terpencil bernama Pringsewu yang berada di Kabupaten Lampung selatan ke Kota kecil Tanjung karang (sekarang Bandar Lampung ).

Aku duduk di lantai yang terbuat dari ubin tanpa menggunakan alas apapun karena hampir semua perabot rumah tangga sudah diangkut ke mobil truk yang parkir di depan rumah. Sambil bermain kapal-kapalan yang terbuat dari kulit jeruk bali, aku memperhatikan kedua orang tuaku mondar-mandir keluar masuk rumah mengangkat sisa barang yang masih ada.

Sementara di ruang belakang aku melihat adiku sedang kebingungan mencari sesuatu..Dari kejauhan samar-samar aku mendengar dia bertanya kepada ibu…”Sandal jepitku yang sebelah kiri ada dimana ya…??.. “Dari tadi aku sudah cari kemana-mana tapi belum ketemu juga…!!, ”Coba cari di bawah pohon nangka,..kamu kemarin sore main di sana,.. kata ibu kepada adikku…”

”Ini dia..ketemu..!!..tiba-tiba kakakku berteriak dari  depan rumah sambil berlari-lari kecil membawa sandal jepit milik adikku yang sebelah kiri. “Tadi ketemu di samping rumah ketutupan daun pisang, kata kakakku…” Wah ini sih biasanya kerjaan si wawan,. suka iseng ngumpetin sandal, kata bapak…’’ ‘Lho kok bapak bisa  tahu ya..?..”Aku yang jadi tertuduh cuma bisa cengar-cengir sambil menggaruk-garuk kepala  walaupun tidak gatal,..

“Ayo sekarang semua naik ke mobil,..!!..” minta tolong sama om kamu kalau nggak bisa naik sendiri..’nanti bapak sama ibu nyusul, karena masih ada barang yang perlu dibawa lagi..

Aku tidak ingat waktu itu persisnya bulan dan hari apa, yang masih aku ingat kami berangkat pada siang hari  kira-kira pukul satu setelah makan siang. Kami pindah rumah diantar oleh tetangga dan beberapa kerabat dekat dengan menggunakan dua buah mobil truk. Satu truk penuh oleh barang barang rumah tangga, satu truk lagi penuh dengan para pengantar. Kami sekeluarga duduk berjejal disamping sopir.

Jarak dari Desa ke kota Tanjung karang kurang lebih 50Km, jarak yang tidak terlalu jauh memang, tetapi pada masa itu kondisi jalan belum begitu bagus, di kanan kiri terlihat masih sangat sepi dan gelap karena banyak hutan jati, perkebunan karet dan juga pohon-pohon besar.

Tapi jarak sejauh itu cukup lama juga kami tempuh, kurang lebih dalam waktu lima jam..,Padahal kalau kondisi normal biasanya dapat ditempuh hanya dengan dua jam saja. Mungkin karena jalan yang masih banyak lubang dan berbatuan,   sehingga sering menghambat laju kendaraan kami. Mungkin juga karena mobil truk tua yang kami tumpangi sepertinya berjalan sangat lambat sekali,.. Kondisi seperti ini membuatku menjadi pusing dan mabuk, rasanya ingin muntah.. Maklum saja itu adalah pengalaman pertamaku naik kendaraan roda empat.

Menjelang maghrib kami tiba di Tanjung karang. Tidak banyak yang kuingat apa saja yang terjadi sepanjang perjalanan, karena aku tertidur akibat terlalu pusing dan kelelahan.

Setelah truk parkir tepat di depan pintu rumah, aku di bopong turun dari truk oleh bapak bergantian dengan adikku… “Aku bisa turun sendiri kok,..”Kakakku menolak untuk dibantu …’tapi tak lama kemudian dia mengeluh…“Aduh..celanaku sobek,!! ’Ehh,..!. sepertinya agak lebar nih sobeknya.., sekarang jadi rok mini,..!! katanya  cengengesan…”rupanya karena terburu-buru ingin cepat turun celananya nyangkut di pintu mobil…

Wuiihh..!!.., rumah yang sangat besar untuk ukuran saat itu berdiri tepat dihadapan kami, ada rasa bangga dalam hati karena sebentar lagi kami akan menempati rumah besar ini.

Aku juga terpesona memandang halaman rumah yang sangat luas dan banyak ditumbuhi pepohonan. Di halaman muka sebelah kanan ada pohon beringin yang sangat besar, di sebelah kiri ada pohon jambu mawar yang kini sudah langka, sementara agak di depan ada dua buah pohon waru dan beberapa pohon kelapa.

Walau tampak seperti bangunan tua, tapi rumah itu cukup kekar dan mentereng, orang-orang jaman dulu menyebutnya rumah gedong.

Pada masa itu Tanjung karang masih sangat sepi meski sudah disebut kota..,Di jalan jarang sekali kendaraan yang lalu lalang, mungkin karena jumlah kendaraannya waktu itu memang belum begitu banyak. Tapi pohon-pohon besar terlihat asri tumbuh rindang menghiasi kota, juga masih banyak bangunan tua peninggalan Jaman Belanda dan Jepang yang terawat dengan baik..

Letak Kota Tanjung Karang sekitar 200Km dari Pelabuhan Bakau Heni..Jika kita akan melakukan perjalanan dari Jakarta ke Tanjung Karang, kita harus menuju Pelabuhan Merak terlebih dahulu yang letaknya ada di Propinsi Banten..Ini bisa ditempuh dalam waktu dua setengah jam kalau jalan tidak macet..‘‘Setelah sampai merak kita  menyeberangi Selat Sunda dengan kapal Feri ro-ro kurang lebih satu setengah sampai dua jam jika tidak ada gangguan cuaca..

Lamanya waktu kita menyeberangi Selat Sunda memang tergantung dengan keadaan cuaca dan tergantung juga dengan kapal apa kita berlayar…Kalau cuaca buruk dan ombak sedang tinggi maka kapal yang kita naiki akan berjalan lambat sekali. Tapi kalau kebetulan mendapat kapal yang bagus, biasanya cukup dengan satu setengah jam sudah bisa bersandar di Pelabuhan Bakau Heni, walaupun ombak cukup besar.. Terkadang di kapal yang agak lumayan bagus itu ada hiburan organ tunggal..lumayan bisa untuk sekedar melepas kejenuhan..

Jika sedang apes kita bisa kebagian naik kapal laut yang buruk..lalu siap-siap saja kita akan melalui perjalanan yang tidak menyenangkan. Tempat duduk tidak nyaman, toilet yang baunya seperti pusat pembuangan sampah Bantar Gebang, dan joroknya minta ampun…Sialnya lagi, kapal seperti ini biasanya berjalan sangat pelan sekali, butuh waktu yang lumayan lama untuk sampai di Pelabuhan Bakau Heni…Seringkali kapal yang buruk ini malah berhenti di tengah laut tanpa ada yang tahu apa yang menjadi penyebabnya.. Karena banyaknya masalah seperti tersebut di atas, mungkin bisa tiga jam lebih kita baru sampai di Pelabuhan Bakau Heni..

Setelah bergotong-royong menurunkan perabot rumah tangga yang tidak seberapa dan banyak yang sudah tidak layak pakai, kami istirahat sejenak melepas lelah… Aku masih ingat dengan jelas ketika kami berjalan menuju pintu rumah bersama-sama. Aku berjalan di tengah diantara bapak dan ibu, di sebelah bapak ada beberapa orang dewasa yang aku sudah tidak ingat lagi itu siapa, sedang lainnya mengikuti dari belakang.

Sampai di depan pintu, bapak mengeluarkan anak kunci dari kantung jaket hitamnya. Tapi sebelum membuka pintu bapak sempatkan untuk mengucap salam, walaupun kami semua tahu bahwa rumah itu kosong dan tak berpenghuni.

Assalamualaikum…!!, kata bapak hampir berbarengan dengan ibu. Kemudian bapak berusaha memasukkan anak kunci ke lubangnya perlahan-lahan. Dengan agak susah payah akhirnya bapak berhasil membuka pintu itu. Mungkin karena lama tak pernah dibuka atau karena ada kerusakan sehingga pintu rumah sedikit ngadat waktu akan dibuka tadi.

Setelah pintu terbuka kami tidak langsung masuk, tetapi hanya memandang dari luar pintu sejenak. Lalu mengamati keadaan di dalam rumah dari luar beberapa saat, baru kemudian kami masuk bersama- sama.

Ada satu peristiwa yang sangat membekas di benakku yang melekat hingga kini. Pada saat-saat tertentu ingatan itu terkadang muncul dengan sendirinya…

Ketika memandang ruangan yang cukup besar, aku melihat di pojok kiri ruangan bagian depan ada sebuah meja kecil ukuran setengah biro, dan di belakangnya duduk seseorang berpakaian coklat abu-abu. Usianya kurang lebih antara 30 sampai 40 tahun, ukuran badannya sedang-sedang saja. Tinggi tubuh sekitar 170 Cm, dan rambutnya agak cepak. Tidak ada ciri-ciri  khusus dari orang tersebut agar mudah dikenali dan mudah diingat.

Waktu pintu terbuka orang tersebut sempat menjawab salam dari bapak. ‘Waalaikum salaam..!!, jawabnya,..”kemudian dia berdiri sambil memandang kami, lalu berjalan lagi ke arah belakang rumah. ‘‘Sambil berjalan orang itu sempat menengok ke arahku tanpa ekspresi, setelah itu dia meneruskan langkahnya kembali ke belakang rumah melalui lorong tengah.

Aku sempat bertanya kepada orang-orang yang ada di samping bapak,..“Itu tadi siapa yang jalan ke belakang..?..Yang mana..? dari tadi nggak ada orang kok..?..ini kan rumah kosong..‘‘kata kakak ku ikut  menyela pertanyaanku,

Oh.., itu mungkin orang yang menunggu rumah ini,…kata bapak mencoba menjelaskan dengan hati-hati..“Mendengar jawaban dari bapak, kami semua terdiam, tenggelam oleh pikiran masing-masing dan mencoba menterjemahkan arti  jawaban itu dengan interpretasi sendiri-sendiri.

Tapi tak ada reaksi dari kami semua, mereka malah memandangku seperti ada sesuatu yang aneh. Mungkin mereka menganggap apa yang aku lihat tadi hanyalah imajinasi anak kecil belaka, atau mungkin juga berharap aku salah lihat.

Aku segera melupakan kejadian tersebut karena asyik mengikuti bapak dan ibu melihat ruangan serta kamar-kamar.

Ada lima kamar di rumah itu, satu di depan, satu di tengah dan satu di belakang. Kemudian ada lorong yang menghubungkan antara bagian belakang rumah dengan bagian depan. Di bagian belakang rumah masih ada dua buah kamar lagi, kemudian ada satu ruang dapur, satu kamar mandi dan satu toilet. Masing-masing kamar di rumah itu ukurannya lumayan cukup besar, bahkan kamar bagian tengah seperti aula kecil memanjang, ukurannya sekitar 6m x 20m.

Di samping jendela kamar utama ada pohon jambu bol yang sangat besar dan tinggi. Di belakang rumah juga ada sumur tua dengan bak mandi dekat dengan tanah kebun yang ditumbuhi bermacam macam pepohonan. “Ada pohon mangga, alpukat, cermai, jambu mede, rambutan, pisang dll. Semua pepohonan tumbuh subur dengan daun yang rindang. Tapi sangat tidak terawat, kotor dan kelihatannya malah menyeramkan karena tampak suram.

Sebelah kanan di luar halaman rumah kami adalah tanah kebun yang di tumbuhi pohon bambu, pohon tebu, ilalang dan beberapa pohon sirsak. Di sebelah kiri ada rumah kosong yang kelihatannya juga lama tidak di huni manusia. Sekilas aku melihat keadaan rumah itu dan pekarangannya kurang lebih hampir sama dengan kondisi rumah yang akan segera kami tempati. Sementara itu di seberang jalan depan rumah kami ada tanah kosong yang luasnya kurang lebih tiga atau empat hektar  dan ditumbuhi oleh rerumputan dan semak belukar. (BERSAMBUNG)

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.