KEKUATAN SUGESTI (2)

‘‘Tahun 1978 ketika Argentina mengalahkan Belanda di Final Piala Dunia, Mario Kempes menjadi top scorer dan bintang lapangan. Dengan nomor punggung sepuluh dia menjadi penentu kemenangan saat Argentina melawan Belanda yang berlangsung di Buenos aires ibu kota Argentina.

jadi tak heran kalau pada masa itu Mario kempes kemudian menjadi idola hampir di semua kalangan tak terkecuali anak-anak seusiaku…‘‘Gara-gara Mario Kempes cita-citaku untuk menjadi sakti menjadi terhambat..!!..‘‘Aku kesal sekali..

Tak ada pengalaman berarti sejak aku tidak ikut latihan Karate lagi. Menjelang kelas enam SD aku mengikuti kursus gitar klasik jadi aku sudah melupakan latihan Karate. Sejak dibelikan alat musik oleh orang tuaku aku jadi mempunyai hobi baru yaitu bermain gitar…‘‘

Sebenarnya keluarga kami semua memang menyukai musik, tapi sayangnya kami tidak mempunyai alat musik karena orang tuaku saat itu belum mampu membeli alat musik..sehingga bakat terpendam kami kurang tersalurkan..‘‘Untuk sekedar menyalurkan hobi Kami bertiga sering bermain musik dengan mempergunakan apa saja sebagai alat musiknya…

‘‘Pernah suatu hari kami konser dihadapan orang tua dan saudara-saudara yang ada di rumah. Aku memegang sapu ijuk dengan gaya gitaris rock & roll, adikku memegang penggaris segitiga besar pura-pura juga jadi pemain bas. Sementara kakakku memegang botol kecap yang dianggap sebagai mikrophone. Dengan badan yang kaku dia mencoba bergaya seperti panyanyi rock  &  roll Elvis praslay..‘‘

Lalu aku dan adikku menirukan suara gitar dan alat musik lain dengan menggunakan mulut layaknya penyanyi A capella, sementara kakakku menyanyi berjingkrak-jingkrak dengan bahasa inggris yang benar-benar sangat ngawur dan ancur….‘‘Apil gut.,.upil nyangkut..sogut..,sogut., upil nyangkut..‘‘Katanya sambil menirukan gaya James Brown dan Elvis….‘‘Harusnya syair yang benar adalah I fiil good…so good..so good..

Group band kami itu mampu membuat orang tua dan saudara-saudara kami yang menonton tertawa terpingkal-pingkal…,Padahal kami sedang serius konser dan tidak sedang melawak….‘‘Lain kali sering pula kami bermain musik dengan memukul-mukul meja dan alat-alat dapur..‘‘Tapi bapak dan ibu tak pernah marah meskipun kadang-kadang kami tak sengaja merusak bangku, meja dan kursi..bahkan Bapak dan ibuku sepertinya ikut menikmati permainan musik akustik kami.

‘‘Sampai pada suatu ketika bapak dan ibu membuat kejutan yang benar-benar membuat kami sangat surprise..‘‘Sore itu bapak dan ibu entah pulang darimana membawa hadiah buat kami, mereka membeli dua buah gitar dan satu buah Pianika..Kami bersorak kegirangan..!!..Rasanya seperti menyambut hari lebaran saja ..Kami sangat gembira sekali.., sukar dilukiskan perasaanku saat itu..,diam-diam aku menitikkan air mata karena haru dan saking senangnya..,

Hadiah itu sangat berharga sekali buat kami.., hadiah itu membuat hidup kami menjadi lebih berwarna dan jauh lebih bermakna..‘‘Bahkan karena hadiah sederhana itu aku dan kakakku paling tidak menjadi lebih punya nilai dimata teman dan masyarakat.  Karena dikemudian hari berkat hadiah itu kami bisa dikenal banyak orang dan bisa berkarya dibidang musik dengan baik..‘Paling tidak kami bisa bermain musik dengan benar..

‘Hingga aku menulis buku ini kakakku masih menjadi salah seorang pemain dan pengajar gitar jazz yang sangat terkenal di Jakarta…‘‘Aku sendiri pernah merasakan nikmatnya menjadi juara gitar klasik..‘‘Aku juga pernah merasakan mencari nafkah dengan bermain musik dan menulis tentang musik dibeberapa media masa…

‘‘Kebanggaan yang tak terkira lainnya adalah waktu aku mendapat aplaus yang meriah ketika sedang melakukan konser sungguhan…‘‘Bukan konser dengan sapu ijuk, penggaris besar dan botol kecap…‘‘Juga bukan konser dengan  lagu-lagu yang ngawur asal mangap…‘‘ Terimakasih bapak..terimakasih ibu..‘‘

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.