KATA PENGANTAR

Buku ini adalah buku pertama yang aku tulis, meski menulis adalah salah satu hobi ku. Tetapi tulisan – tulisanku terdahulu kebanyakan adalah dalam bentuk esai, future, atau wawancara dengan artis dan tokoh yang sedang jadi pembicaraan hangat. Itupun sudah lama tidak aku lakukan lagi.

Kira – kira sudah lebih dari sepuluh tahun aku tidak aktif menulis lagi. Aku istirahat panjang menulis karena waktu ku habis untuk mencari nafkah dan menekuni hobi yang lain. Hobi ku selain menulis adalah bermain musik, ikut – ikutan jadi politikus kampungan dan meyelami dunia mistik.

Tapi hobi ku yang tetap aku tekuni hingga sekarang adalah u  s  i  l,.. ‘’aku akan merasa puas jika berhasil mengusili orang lain. Hobi ini tetap aku tekuni dan aku pertahankan hingga sekarang, karena disamping murah dan tidak memerlukan waktu khusus, juga bisa untuk menjaga silaturahmi…he..he..he

lalu kenapa aku terpanggil untuk mulai menulis lagi.. ? ‘’Ada perasaan galau dihatiku tentang sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada banyak orang. Semakin lama perasaan itu semakin kuat mendorongku untuk segera menyampaikannya. Lalu aku mulai berfikir bagaimana caranya agar uneg – uneg ini bisa tersalurkan ?

Mula – mula aku berniat akan menulis di koran, di tabloid atau majalah. Tapi kemudian aku berpikir,  dengan media seperti di atas tulisan ku hanya sekilas akan dibaca dan diingat orang. Setelah selesai dibaca, koran dan majalah tersebut biasanya di jual ke tukang loak oleh pemiliknya, atau untuk bungkus gorengan atau dijadikan bubur kertas sebagai karya seni.

Sudah tentu aku tidak mau tulisanku kurang dihargai dan dibuang begitu saja setelah dibaca.Mungkin karena aku orangnya  melankolis.

Kemudian aku jadi merasa agak idealis karena punya ide  akan menuliskan dalam bentuk buku saja. Aku bermimpi buku yang aku tulis akan laris terjual sehingga informasi dari buku ini akan sampai kebanyak orang.

Bahkan aku juga berharap kalau tidak boleh dibilang berkhayal, buku ini bisa menjadi best seller, jadi pembicaraan orang dimana mana, dan di bahas pada acara seminar – seminar atau talk show. Syukur – syukur  kalau dapat tawaran ikut acara Kick Andi di Metro Teve, siapa tahu kan.. ?

Ketika akan menulis buku ini awalnya aku bingung mau dimulai dari mana, sebab aku tidak punya pengalaman menulis buku. Tambah bingung lagi setelah aku coba buka arsip tentang tulisan – tulisan ku yang dulu, ternyata Jadul banget dan sangat tidak oke, bahkan rasanya sangat ngisin- ngisini untuk dijadikan referensi.

Lalu aku coba bertanya kepada suami adikku yang sudah berulang kali menulis buku, bagaimana caranya menulis buku, tapi apa jawabnya .. ? ‘’Mas wawan kan bisa nulis, ya tulis aja apa yang ada dipikiran mas wawan.’Kalau nggak ada penerbit yang mau menerbitkan nanti kan bisa disimpan di lemari buat koleksi pribadi atau paling tidak untuk dibaca sendiri. Tapi siapa tau aja bisa booming kayak tulisan Andre Hirata’ katanya.

Wah… Jawabannya sama sekali tidak edukatif,.. karena adikku ini biarpun ustadz dan ilmunya mumpuni, rasa humornya cukup tinggi nggak kalah sama Thukul arwana. Tetapi sungguh jawaban itu justru membuka pikiranku, bahwa.. ’‘benar, aku harus tulus dalam menulis buku sesuai dengan apa yang ada dipikiranku saja .

Jawaban itu justru membongkar otak ku dan mengaduk – aduk perasaan ku, bahwa menulis itu memang harus apa adanya, jujur, tidak dibuat buat dan sesuai kemampuan tidak perlu dipaksakan. Ada petuah dari Imam Ali, bunyi bahasa arabnya begini – ‘’Kitaabur rajuli’unwaanu’ aqlih wa burhaanu fadhlih. Artinya, buku seseorang adalah ukuran kebijakannya dan bukti kemuliaannya.

Setelah mendapat saran yang kurang sehat dari adikku itu, aku malah bisa menulis tanpa beban. Tulisan sengaja aku buat simpel –  simpel agar mudah dicerna, padahal sih aku memang tidak mampu menulis yang njlimet.

Buku pertama ku ini juga miskin idiom – idiom keren yang biasanya justru sulit diartikan oleh pembaca awam (sebenarnya aku juga kurang mengerti bahasa bahasa idiom).

Aku berusaha keras mencari referensi sebanyak banyaknya untuk menutupi ketidak mampuanku dalam menulis. Koleksi buku lama dan baru terpaksa aku bongkar dan dibaca ulang. Sepanjang menulis buku ini aku jadi sangat rajin membaca buku apa saja yang kiranya dapat dijadikan referensi.

Teman – teman yang sudah lama tidak aku hubungi mulai aku cari atau minimal aku telephone untuk memperbanyak khasanah ilmu pengetahuanku. Alhamdulillah berkat adanya google yang menyediakan referensi berlimpah ruah, aku dapat menggali informasi sebanyak banyaknya, dan rasanya tulisanku menjadi agak pantas untuk dibukukan

Ada kata – kata mutiara yang lumayan bagus dan kelihatannya berhubungan dengan buku yang aku tulis ini, Simplex veri sigillum – artinya ‘Kesederhanaan adalah tanda kebenaran. Kata – kata mutiara itu makruf dikalangan filosofi, Kata Kang jalal sang pakar komunikasi.

Sekarang aku tidak lagi punya pikiran buku ini laku atau jeblok di pasaran, ada yang mau menerbitkan saja sudah sukur Alhamdulillah, itung – itung pengalaman. Meski dari hati kecil aku sangat berharap jika buku ini jadi diterbitkan isinya dapat diapresiasikan oleh siapa saja, dalam bentuk apapun, yang penting bermanfaat.

Seperti Andre wongso, andrias harefa atau Jansen H.Simano yang berjualan buku dengan seminar – seminar dan talkshow, aku juga ingin bisa seperti itu. Atau seperti Andre hirata yang bukunya laris manis di film kan.‘‘Penulis itu hidup kalau bukunya diapresiasi oleh masyarakat – ini pendapat  Andre harefa di bukunya Mengukir kata dan menata kalimat.

Saya setuju 100% dengan pendapat  tersebut karena makin banyak di apresisikan akan makin laris buku tersebut. Dan makin banyak manfaat yang bisa diserap oleh pembaca. Disamping itu penulisnya juga senang kalau bukunya laku terjual banyak, karena otomatis honor tulisannyapun jadi lumayan. Apalagi penerbitnya..

Di buku ini aku menulis tentang pengalaman pribadiku mengenai dunia mistik, tenaga dalam, dan sejenisnya. Hanya saja aku mencoba mengupasnya dari sisi yang sangat berbeda.

Biasanya mendengar kata mistik, gaib, roh, atau paranormal, fikiran kita selalu berasumsi bahwa itu adalah sesuatu yang menyeramkan atau sesuatu yang luar biasa dan sulit dijangkau akal sehat.

Aku mencoba membalikkan asumsi – asumsi tentang hal tersebut di atas dengan bahasa yang sederhana dalam bentuk cerita kisah nyataku dari semasa aku kecil hingga kini.

Nah,.. aku sudah berusaha maksimal, inilah hasilnya. Mudah – mudahan informasi dari buku ini bisa sedikit  menambah ilmu pengetahuan bagi pembaca, dapat menjadi pembelajaran dan sedikit ikut membantu mencerdaskan masyarakat .

Akhirnya dengan rendah hati buku yang jauh dari sempurna  ini, malah aku bilang awut – awutan akhirnya ada juga yang mau menerbitkan. Aku ucapkan terima kasih kepada ….yang mau nekat menerbitkan buku pertamaku  ini.

Mudah – mudahan sebagai penerbit dapat untung besar sehingga kalau aku punya ide menulis lagi kiranya mau menerbitkan buku yang aku tulis kembali. Dan sebagai penulis moga – moga aku juga dapat bagian yang lumayan dari penerbit sehingga ide kreatifku untuk menulis terpacu kembali..he..he., Amin….amin

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.