Pembunuhan Karakter ‘Wali Songo’

Benarkah sejarah tentang kesaktian Wali Songo seperti yang sering ditayangkan di TV, Film maupun ditulis di buku-buku itu benar adanya ?

Salah satu ahli sejarah tentang perjalanan Islam di Indonesia adalah Bapak Uka Tjandra Sasmita. Beliau juga banyak melakukan penelitian tentang sepak terjang para Wali songo di Nusantara. Salah satu bentuk karyanya bahkan pernah dibuat layar lebar dengan judul Fatahillah.

Di dalam film itu kita mendapatkan penjelasan yang tegas dan lugas dari bukti sejarah yang akurat, bahwa para Wali itu ternyata bukan sosok manusia sakti mandra guna. Sebaliknya, mereka justru digambarkan sebagai tokoh ulama yang mengajarkan ilmu syari’ah, juga menjadi pemimpin beberapa wilayah Negeri khususnya di Pulau Jawa.
Kata Wali yang dimaksud bukan diartikan Waliyullah, melainkan maknanya sama dengan Wali Kota. Karena jumlah wilayahnya ada sembilan, maka ada sembilan Wali yang masing-masing bertanggung-jawab terhadap wilayahnya.

Pusat Kesultanan pada saat itu ada di kota Demak. Sistem hukumnya adalah syariat Islam. Bahkan mereka sudah sampai pada penerapan hukum hudud. Mereka punya mahkamah syari’ah, tempat untuk mengadili orang-orang yang melanggar hukum syari’ah.

Itu adalah salah satu fungsi dan peran dari para Wali songo, karena mereka adalah pemimpin agama sekaligus pemerintahan. Tentunya mereka juga adalah sosok para ulama yang menguasai ilmu Syari’ah,
Sama sekali tidak ada sanad yang shahih tentang tokoh para penyebar Islam di nusantara ini, kalau dikatakan bahwa mereka adalah para tokoh ilmu ghaib.

Para Wali songo itu adalah tokoh ulama penyebar agama Islam. Dan mereka bukan ahli silat, apalagi punya ilmu-ilmu sakti. Maka cerita sosok para Wali yang sakti menurut saya adalah bentuk penyesatan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang memusuhi para wali songo itu sendiri.

Sangat menyedihkan jika kita menyaksikan Sinetron dan cerita rakyat tentang wali songo, dengan sosok yang sakti mandra guna. Ini adalah salah satu bentuk ghazwul-fikri yang menusuk jantung umat Islam.

Disadari atau tidak, sosok para ulama penyebar agama Islam itu tiba-tiba menjadi tokoh dagelan, kalau tidak mau dikatakan tokoh perdukunan. Menyamakan kearifan dan kebesaran Wali songo dengan Paranormal atau jago silat adalah sangat memalukan dunia Islam.

Cerita-cerita yang menggambarkan sosok para Wali songo sebagai orang yang jago silat, bisa menghilang, bisa menunjuk pohon jadi emas dan seterusnya adalah versi cerita dari musuh para Wali songo itu sendiri. Ini yang sering kita kenal dengan pembunuhan karakter.

Termasuk kebiasaan buruk sebagian masyarakat kita yang berziarah ke makam mereka dengan tujuan untuk meminta berkah, biar laris dagangannya, biar panjang jodohnya, biar naik pangkat dan jabatannya, biar diterima jadi pegawai negeri dan seterusnya.

Tanpa disadari, semua itu adalah bentuk-bentuk kepercayaan sesat yang dilancarkan oleh kelompok yang anti terhadap dakwah para Wali songo itu. Seandainya para Wali itu hidup lagi dan melihat apa yang orang-orang lakukan terhadap makam mereka, pastilah mereka akan sangat kecewa.

Wali songo itu sebutan untuk suatu dewan dalam organisasi dakwah Islam pada sekitar abad ke 14 di Pulau Jawa.
Mereka adalah bagian dari jaringan dakwah yang lebih besar lagi di dunia. Salah satunya juga melibatkan Laksamana Cheng Ho.

Legenda yang berkenaan dengan kesaktian dan lain sebagainya yang sejenis adalah tambahan-tambahan yang diselipkan dalam proses penyampaian informasi dari mulut ke mulut di dalam masyarakat.

Mungkin karena pengkultusan atau juga persepsi yang didasari oleh budaya yang sebelumnya ada di masyarakat.
Sebagai tokoh penyebar Agama Islam, tentu sangat tidak layak untuk digambarkan bagai tokoh dagelan sakti mandraguna. Kita janganlah bangga dengan penggambaran yang keliru itu, tetapi kita seharusnya malah bersedih hati.

Ada wali yang dikatakan bisa menunjuk pohon lontar berubah menjadi emas, ada tokoh Wali yang diceritakan duduk bertapa bertahun-tahun di pinggir kali, ada Wali yang dibilang bisa berjalan di atas air, bisa terbang, bisa menghilang bahkan ada yang immortal (hidup abadi) dan masih macam-macam dongeng Minor tentang Wali songo lainnya

Salah satu asumsi mengapa ada pembunuhan karakter seperti ini adalah bersumber dari kalangan yang melakukan perlawanan atas usaha Islamisasi yang dilaksanakan oleh para wali songo sendiri.

Padahal pada masa itu para Wali songo selalu mengupayakan Dakwah dengan lembut dan sangat sopan santun. Akan tetapi pertentangan dan perbedaan pendapat tetap sering terjadi, meskipun tidak secara terang-terangan. Salah satu bentuk pertentangannya adalah dengan cara sinkritisme, yaitu paham yang mencampur-adukkan antara ajaran leluhur nenek moyang dengan ajaran Islam. Kita lebih mengenal ajaran tersebut dengan istilah kejawen. Dalam kaca mata Syari’ah, ini adalah bentuk pencampur-adukan Syari’ah dengan paham-paham asing di luar Islam.

Yang dilakukan oleh pihak-pihak yang melawan proses Islamisasi di tanah Jawa bukanlah dengan cara angkat senjata, melainkan mereka masuk Islam tetapi kemudian melakukan berbagai pembusukan dan pencorengan aqidah dari dalam.
Selain bermunculannya aliran tarekat kejawen yang sesat, mereka berhasil mencoreng sejarah para penyebar Agama Islam (Walisongo) dengan membuat seburuk-buruk cerita bohong tentang mereka.

Kalau hari ini sosok para wali dan pemimpin umat itu sedemikan minor, tentu ini adalah kecelakaan sejarah. Dan bangsa kita adalah bangsa yang paling bodoh terhadap sejarahnya sendiri. Bahkan paling tidak peduli.
Sementara cerita rakyat yang fiktif dan bohong itu tetap merajalela, masih sangat sedikit kaum sejarahwan Muslim yang mengkhususkan diri untuk menekuni bidang penulisan ulang sejarah umat Islam di negerinya sendiri.

Cerita-cerita tentang kesaktian para wali itu akhirnya lebih menonjol ketimbang ajaran syariat Islam yang mereka sebarkan di tanah Jawa. Para wali itu banyak yang mendalami Islam dari Timur Tengah, dan tentunya mereka mengajarkan aqidah Islam yang lurus, syari’ah Islam yang terdapat dalam kitab-kitab fiqih, serta beragam ilmu keIslaman lainnya yang standar di dunia Islam.

Namun lewat penentangan internal, ajaran para wali itu kemudian dikalahkan dengan cerita bohong tentang kesaktian sosok para wali. Dan namanya cerita bohong, siapa pun merasa berhak untuk menambah-nambahi cerita bohong itu. Hingga akhirnya jadilah sosok Wali songo, para ulama penyebar agama itu, seperti sekarang ini.

3 comments

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.